Tugu Pal Putih

Tugu Yogya adalah salah satu bangunan peninggalan Sultan Hamengku Buwana I. Pembangunan Tugu tersebut dilakukan untuk memperingati rasa kebersamaan raja (pada waktu itu Pangeran Mangkubumui) dengan rakyat yang bersatu padu melawan Belanda sehingga Pangeran Mangkubumi mendapatkan tanah Mataram. Tugu tersebut dibangun setahun setelah Perjanjian Gianti. Ketinggian Tugu pada waktu dibangun pertama kali adalah 25 meter.

Posisi Tugu Yogya sekarang berada di tengah perempatan jalan besar yakni yang membujur ke utara adalah Jalan AM. Sangaji ke timur Jl. Jenderal Sudirman, ke selatan Jl. Pangeran Mangkubumi-Malioboro, ke barat Jl. Pangeran Dipanegara. Puncak tugu tersebut pada awalnya sebagai titik pandangan Sultan sewaktu menghadiri upacara Grebeg di Bangsal Manguntur, di Sitihinggil Lor.

Dalam bahasa Belanda Tugu Yogya ini lebih terkenal dengan sebutan white paal (tugu putih). Sedangkan masyarakat Yogyakarta generasi tua sering menyebutnya Tugu Pal Putih. Di samping itu, masyarakat Yogyakarta juga sering menyebutnya Tugu Golong Gilig. Hal itu tidak terlepas dari ciri-ciri fisik bangunan itu. Warna putih yang melingkupi seluruh tubuh tugu itu menjadikannya lebih terkenal dengan sebutan Tugu Pal Putih.

Sedangkan bentuknya yang memang gilig (bulat panjang) dengan puncak berbentuk bola, menyebabkanya disebut golong gilig. Di samping itu, golong gilig juga dimaksudkan sebagai simbol rasa kebersatuan antara rakyat dan raja dalam melawan Belanda. Golong gilig sering diartikan sebagai menyatu/berbulat niat, kehendak, dan tindakan.

Tugu Yogyakarta ini pada tanggal 10 Juni 1867 runtuh kira-kira sepertiganya akibat gempa yang melanda Yogyakarta waktu itu. Oleh penguasa Belanda tugu tersebut dirombak pada tahun 1889 sehingga mengalami perubahan bentuk seperti sekarang ini dan tingginya berubah menjadi hanya 15 meter.

Perombakan ini dilakukan Belanda dengan maksud agar tugu tersebut tidak lagi menjadi simbol atau monumen golong gililg antara rakyat dengan raja sehingga makna semula seperti ketika dibangun menjadi hilang.

Sultanku Gubernurku

Sultan Hamengku Buwono X

Sultanku Gubernurku, inilah yang menjadi pokok soal yang masih menjadi pikiran pemerintah pusat. Namun, rakyat DIY tetap berpegang teguh pada satu keputusan. Sultan tetap Raja dan Gubernur DIY. Tak ada tawar menawar di dalamnya. Rakyat DIY yang ramah juga bisa tegas ketika KEISTIMEWAAN DIY digoyang oleh pemerintah pusat.

Legenda dan Mitos di Jogja

1. Suara drumb-band tengah malam.

Sekitar tahun 80-an akhir, setiap tengah malam, di hari hari tertentu, kita orang jogja pasti mendengar suara drum-band. Kalau yang rumahnya barat, pastilah mengira asal suara itu dari timur, kalau dari selatan pastilah mengira itu asal suara drum-band dari arah utara, begitu pula sebaliknya. Anehnya, suara itu ketika dicari tidak ada satupun yang menemukan. Saya pernah minta kepada bapak untuk nonton itu drumb-band, lantas diantar sama bapak mencari asal suara itu, tapi tetap saja tidak ditemukan. Ini semua orang jogja asli pasti tahu.

 

 

2. Legenda Yu Darmi.

Tentang legenda hidup ini, mbak Tiwi nadanusantara pernah membahasnya di sini ., juga ada teman bahas di sini juga. Beliau adalah legenda dunia malam pinggir kota. Dengan payung hitam dan baju hangat semacam sweater berkerah menutup leher, beliau “bekerja” menjadi PSK senior. Rumahnya kalo ndak salah diselatannya stasiun lempuyangan.

Waktu SD ketika saya berangkat setor koran naik sepeda pagi-pagi dari jalan Diponegoro ke stasiun tugu dan lempuyangan, saya sering berpapasan dengan beliau, bahkan beliau sering menyapa sesiapa yang masih terbangun dini itu di sekitar area lempuyangan kadang di utara Kridosono. Tapi apa yang dilakukannya waktu itu saya ndak mudheng.

 

 

3. Gauk (sirine-Jawa) pabrik gula Madukismo

Suara gauk yang meraung raung setiap jam 5.45, 6.00, 21.45, dan pukul 22.00. Suara ini akan terdengar setiap musim tebang tebu atau disebut cembengan, yaitu pada bulan April-Oktober.

 

 

4. Gauk pitulasan, 1 maret, dan 10 november.

Suara gauk ini berasal dari tower gauk di selatan pasar Gampingan (Serangan) selatan jalan. Dulu disitu ada tower jaman belanda  yang selalu dibunyikan pada tanggal tanggal tersebut. Kalau tanggal 1 maret dan 10 November pasti dibunyikan tepat jam 6 pagi. Kalau pas pitulasan pasti jam 10 pagi. Pada saat gauk pitulasan dibunyikan, ada ritual kusus yang dilakukan para mahasiswa Institut Seni Indonesia, yaitu tiarap. Tapi akhir 80-an, tower yang sudah tidak berfungsi sejak awal 90-an itu sudah dirubuhkan karena dibelakangnya dibangun PLN baru. Sebelum PLN, bangunan pabrik anim yang terkenal angker.

 

 

5. Air Mancur

Dulu di tengah perempatan Kantor Pos Besar ujung jalan Malioboro ada air mancurnya. Lalu sekitar pertengahan 80-an air mancur itu dihilangkan seiring meningkatnya volume lalu lintas yang melewati perempatan itu. Lantas, lokasi NOL kilometer itu dinamakan Air Mancur. Kalau ndak percaya tanya aja sama kernet bus kota jalur 9 warna oranye itu.

 

 

6. Suminten Edan

Hahaha tokoh kethoprak ini sangat fenomenal sekali. Siapapun pasti pernah nonton ketoprak ini, enta itu nonton dirumah sendiri atau di tetangga. Ketoprak yang sangat menakutkan bagi anak-anak kecil, hahaha, apalagi suara tangis bayinya Suminten. Tokoh yang memerankan Suminten Edan adalah Marsidah, BSc., dari sanggar ketoprak Sapta Mandala pimpinan pak Widayat. Rumah bu Marsidah dari dulu sampai sekarang di selatan pasar Ngringin di Patangpuluhan. Dahulu Sapta Mandala bernama Kridha Mardi, yaitu bidang kesenian dari group kesenian underbow Lekra dari Partai Komunis Indonesia

 

 

7. Gito-Gati PS Bayu

Tokoh kembar fenomenal dalam bidang perkethoprakan Jogja dan sekitarnya. Anak-anak kecil bisa membedakan keduanya dari “upa atau nasi yang menempel di pipi” salah satu dari keduanya. Anaknya, Bambang Rabies sampai sekarang masih eksis di dunia kesenian.

 

 

8. Kethoprak Sayembara TVRI Jogja

Beberapa judul yang masih saya ingat: Ampak-Ampak Singgelopuro; Kesaput ing Pedhut, Ampak-ampak kaligawe, dll. Terakhir kethoprak sayembara tahun 1994 dengan tokoh Ria Enes yang punya noda “toh” di lengan. Sponsor ketoprak sayembara terakhir adalah majalah Referendum yang terbit dan mati pada tahun-tahun tersebut. Salah satu tokoh yang sangat terkenal adalah Ki Bongol, seorang misterius yang sakti mengenakan caping. Dan ingat ga, kalau yang jadi mbok mban di setiap lakon selalu sama orangya, ibu ibu gemuk pendek, namanya Bu Titik, tapi panjangnya siapa ndak tahu.

 

 

9. Mbangun Desa

Cerita semacam opera sabun yang digunakan oleh pemerintah sebagai sarana untuk menyalurkan kebijakan-kebijakan yang bertitik pada pembangunan desa. Dikemas lucu dan dengan gaya jogja yang khas. Tokoh-tokoh dalam opera ini adalah: Den Baguse Ngarso (Drs. Susilo), Pak Bina, Bu Bina (Heru Kesawa Murti), Kang Sronto, Yu Sronto (yang aslinya adalah istri dari pemeran Pak Bina), Den Ayune Ngarso (Yati Pesek) Kuriman, dan terakhir ada Yu Beruk.

 

 

10. Obrolan Angkring

Sapa kelingan tokoh tokohe, ayo tulis kene. Nek aku masih ingat lagunya loh.

Warung angkring sebutane

Ra ngintelek ning mesti dho dikangeni

Mahasiswa, tukang becak, seniman lan senewen

kabeh ngumpul dadi siji dho gayenge

Ngobrol mrono, ngobrol mene kaya ahli

Wusanane ngrasani nggone tanggane

Aja-aja, aja keladuk sembrono, iso iso diciduk karo pulisi

 

Mangga-mangga, mangga lenggah wonten mriki

Lenggah nangkring, sego kucing, karo ngopi

Mangga-mangga, sing ra jajan mesti rugiii

 

 

11. Basiyo

Dagelan mataram ala Jogja yang digawangi oleh Alm. Basiyo, Alm. Ki Narto Sabdo. Ngabdul,dll. Dagelan yang bersahaja, lugu, cerdas, antisipatif, tidak sarkasme, dan sangat kental dengan kebudayaan dan cara hidup orang kebanyakan di Jogja.

Dagelan gaya mataraman ini, kaset dan mp3 nya bisa didengarkan di koleksi saya di sini

 

12. Sujud Sutrisno

Seorang pengamen jalanan jogja yang khas dengan permainan kendang tunggal di selempangkan menyamping di perutnya.  Mulai mengamen dengan kendang tunggal ini sejak ibuku belum lahir,,yaitu sebelum tahun 62, dan sampai sekarang mbah sujud masih mengamen dengan cara yang unik ini. Satu frase dalam lagunya yang terkenal adalah

“Tum, dundang mbokmu…..”

Rekaman lagunya bisa di dengarkan di koleksi musik saya di sini

 

13. Puk puk puk, ji walang kaji puk puk beruk dem dem

Masih ingat ga, tahun sekitar 80an pertengahan, ada opera Lebaran TVRI Jogja yang dibintangi oleh Didik Nini Thowok, Daryadi, Marwoto Kawer, dan Bu Titik (yang biasa jadi mbok mban di ketoprak). Dalam opera itu, Dhidik Nini Thowok dan Marwoto Kawer merapal mantra yang lucu dan masih saya ingat sampai sekarang.

Mantranya Marwoto Kawer: Pok pok pok dem dem dem, ji walangkaji pok pok beruk dem dem dem;

dan satu lagi ajian yang dimiliki oleh Dhidik Nini Thowok

Sek esek esek, ora ngalor ora ngidul nunul menuk Dul….

hahaha

 

 

14. Ciri-ciri orang Bantul: pipi kanan hitam

Hahaha ini pomeo entah siapa yang memulai, yang jelas sejak saya masih TK, sekitar tahun 87an, saya sudah mendengar tentang hal ini.

Jadi begini, dahulu, orang orang Bantul banyak sekali yang bekerja ke Kota Jogja. Ribuan orang bersepeda bersama memenuhi jalan jalan arteri utama Bantul-Jogja, seperti jalan Bantul, jalan Parangtritis, dan jalan Imogiri, baik pada pagi hari ketika datang maupun sore hari ketika pulang, berjajar 2-3 sepeda di sebelah kiri. Ketika berangkat kerja, mereka berbondong-bondong bersepeda menuju Kota yang berada disebelah utara, menuju arah utara, sehingga matahari pagi di timur lebih banyak menyinari sisi muka sebelah kanan. Begitu pula sebaliknya, ketika pulang, muka mereka sebelah kanan kembali terkena matahari sore di ufuk barat. Begitulah pomeo ini berlaku hahahaha.

 

 

15. Legenda LAMPOR

Ketika saya kecil, saya pernah diceritakan sama bapak kalau di malam-malam tertentu, orang orang disepanjang lembah Kali Code mendengar bunyi gemerincing dan derap kaki kuda. Dan ketika mereka mendengar itu, lantas serta merta mereka akan menutup pintu dan jendela. Ya, mereka bilang ada LAMPOR datang. Lampor adalah tentara dari kerajaan Ratu Pantai Selatan. Mereka datang dengan kereta kuda mengantarkan Ratu yang hendak berkunjung dengan kereta kencananya menuju Gunung Merapi melewati sungai Code. Tapi jaman dulu memang mereka benar-benar mendengarkan suara gemerincing itu. Jika suara itu datang, pendudu lantas menutup pintu lantaran takut dibawa serta ke Laut Kidul. Tapi suara itu terdengar benar-benar!!! Legenda tentang Lampor ini pernah dituliskan dalam sebuah cerpen oleh seorang tukang becak, tapi ketika tulisannya mendapat juara dalam sebuah kompetisi, dia menolak untuk menulis lagi.

 

 

16. JOXZIN JXZ

Joxin, atau ada yang menyebutnya dengan kepanjangannya Pojox Pom Bensin, adalah grup gank tertua dan terkenal di Jogja. Bermula ketika anak anak seputaran malioboro dll, membuat kumpulan gank yang suka nongkrong di Perempatan Sultan Agung (timur Shoping) di depan POM Bensin Senopati yang sekarang sudah dijadikan taman parkir.
Versi lain mengatakan bahwa JOXZIN ini adalah akronim dari Joko Sinting. Selalu berkendara motor RX King. JOXZIN menginpirasi lahirnya gank lain seperti QZR, Qizruh yang jika melakukan tawuran selalu mengendarai motor Jet Colet dengan ciri khas sticker putih di  slebor depan. Kemudian muncul gank lain seperti: CNX Conyax, Ardath Aku Rela Ditidurin Asal Tidak Hamil, CAJ Cina Anti Jawa, TRB Trah Budeg, dan yang agak baru ada GMX Gemax yang bermarkas di Kauman.

17. Bioskop-bioskop Legenda kota Jogja

Berikut nama-nama bioskop yang dulu sempat ngetop di kota Jogja.

President dan Senopati (Satu lokasi di Shoping Centre, sekarang Taman Pintar)

Soboharsono, Widya (Seputaran timur alun alun utara)

Indra, Permata, Arjuna, Empire, Regent, Ratih, dll

Dan satu bioskop yang waktu saya SMP paling terkenal karena kutu busuk (tinggi)nya adalah Sobo Harsono di pojokan alun-alun utara.

Siapa yang tahu? tulis di komentar aja, nanti tak unggahkan

 

 

18. Muktamar Muhammadiyah ke-42

Muktamar ini diselenggarakan di kota Jogja pada bulan Desember tahun 1990. Ini menjadi fenomenal karena bersamaan dengan acara Visit Asean Year.

 

 

19. Kirab tinggalan dalem Sri Sultan HB IX dan kirab jumenengan Sri Sultan HB X

Setahun setelah meninggalnya Sultan HB IX bulan Oktober 88, tepatnya tanggal 7 Maret 89, diadakan Kirab Ageng Jumenengan Dalem Pangeran Mangkubumi menjadi HB X

 

 

20. Mencari kliping di Shoping

Hahaha dulu kalau ada tugas membuat kliping pasti tujuannya ke shoping. Shoping menjadi ramai sekali pada saat tahun ajaran baru. Shoping yang letaknya di sebelah timur Munumen Satu Maret, depan Bank Indonesia, menjadi tempat tujuan bagi ibu ibu membeli buku murah untuk anak-anaknya.

 

 

21. SMA 17-1

Hahaha orang dulu menyebutnya SMA Pitulassiji. SMA swasta yang mirip SMA Negri (karena ada angka 17nya) yang sangat fenomenal karena reputasinya dibidang BERANTEM. Terletak di Pingit, Ujung Selatan Jalan Magelang. Sejak beberapa tahun lalu lembaga yang menaungi SMA ini sudah bubar.

 

 

22. Jagading Lelembutnya Djoko Lodhang

Rubrik di Majalah Bahasa Jawa ini menjadi rubrik paling favorit, setelah rubrik Dhat Nyeng dibagian sampul belakang dan rubrik Pengalamanku. Berisi tentang cerita kisah nyata dari para pembaca mengenai kejadian metafisika dan hantu yang mereka alami. Rubrik ini dikemas seperti rubrik Cerkak dan Cerbung

 

 

23. Pak Abas CH

Semasa saya kecil, Pak Abas CH selalu mengisi sebuah acara di Radio Retjo Buntung bernama Pembacaan Buku. Acara ini berisi opera radio yang dinarasi oleh beliau. Diputar setiap hari Minggu jam 14.30. Diiringi gesekan rebab dan alunan melodi gender membuat acara ini semakin syahdu.

24. Hari Untarto

Mahasiswa abadi Biologi UGM ini adalah icon atensi dan pecinta radio, terutama UNISI. Hari, sehari harinya menghabiskan waktu untuk melakukan atensi, live phone ke radio radio di Jogja, biasanya mengirim lagu untuk Dian PTN, anak biologi angkatan 2000.

25. Jamu Gandring
Hahahaha ini tidak ada ditempat lain kecuali di Jogja, dan itupun hanya seorang. Jamu Gandring ini makanan, serupa permen, berasa jahe yang dibentuk bulat bulat kecil berwarna coklat. Simbah almarhum yang menjual jamu gandring ini biasanya meneriakkan “Ndriiinggg,,,Jamu Jamu Gandring” dengan tone rendah sambil membawa pikulan dibahunya. Ciri Khas lain adalah pikulannya ada semacam wayang orang di kedua sisi, tapi bukan tokoh wayang, hanya ciptaan si simbah penjual jamu gandring.
Dahulu, para ibu jika menemukan kesulitan “ndulang” anaknya dan/atau anaknya suka minta jajan, maka ibu itu akan bilang “nek jajanan terus ora gelem maem tak undangke mbah jamu gandring, ben digawa lebokne mbagor”

26. Es Goreng Pak Gathot Terkenal di Sekolah-sekolah dasar seantero Jogja. Menjual es yang digoreng (dicelupkan) ke dalam kuah coklat, kemudian si pembeli mengambil lotere berupa kertas kosong yang jika dicelupkan ke dalam air,  maka dalam kertas ini muncul tulisan. Biasanya menyertakan Horn dalam setiap aksinya.

27. Samijaya, Progo, Toko Tiga dan Toko Ramai Tempat belanja dan kongkow paling legendaris di Jogja. Kalau Toko Tiga itu letaknya diselatan perempatan Tamansari (pertemuan Wahid Hasyim dan Sugeng Jeroni)

28. Bah Gemuk Satu-satunya klinik dan toko obat China yang sejak saya masih bayi sudah melayani pengobatan di ujung selatan perempatan wirobrajan. Tabibnya namanya Bah Gemuk. Pengobatan untuk rakyat. Sekarang toko obat bah Gemuk sudah ditutup karena sudah dua kali pasien bah Gemuk meninggal dunia karena salah obat. He

29. Kerkop (KerkHof) Tempat nyekoki balita dan anak anak kecil yang susah makan atau sakit dengan jamu jamuan tradisional jogja. Bocah biasanya dicangar supaya membuka mulutnya, kemudian simbah yang nyekoki jamu, memeras jamu yang sudah dibungkus dengan kain putih tepat di atas mulut bocah yang terbuka. Dulu ada pomoe yang biasa dikatakan ibu ibu kalau bayinya susah makan
“Nek emoh maem mengko tak cekokke ning kerkop loh”, lantas bayinya mau makan. Terletak di depan THR, THR dulu adalah kuburan yang dalam bahasa belanda adalah KerkHof.

30. Trinil, endi gembungkuuuuuPada medio 80-an, ada sebuah sandiwara radio berbahasa jawa yang diputar di Retjo Buntung dan RRI berjudul Trinil. Tokoh utama dalam sandiwara ini juga bernama Trinil, seorang gadis yang kemudian dibunuh dengan cara dimutilasi, kepala dan tubuhnya dipisahkan oleh pacarnya setelah pacarnya mengetahui bahwa trinil ini hamil. Lantas potongan tubuhnya dibuang di jurang oleh dia dan beberapa temannya. Kemudian, hantu trinil berupa kepala ini menghantui orang orang yang terlibat dalam pembunuhannya. Dan setiap dia menghantui, dia selalu bilang “Endi gembungkuuuu (mana tubuhku-Jawa)”.
Versi lain menyebutkan, bahwa hantu yang mencari gembung itu adalah hantunya ibu tirinya Trinil yang mencari potongan tubuhnya. Setelah Trinil membunuh dan memutilasi ibu tirinya, lantas, gembungnya disembunyikan dibawah tempat tidur.

 

31. Mitro Nggedebus

 

Iklan jadul obat sakit kepala mixagrip dengan tagline paling terkenal “aaah kang mitro ki nggedebus wae omongane jan….” yang akhirnya menjadi pameo ketika ada orang yang suka ndobos atau bohong maka dia dipanggil Kang Mitro Nggedebus.
32. Kuncung dan Bawuk

 

Opera tivi untuk anak anak yang ditokohi oleh Kuncung dan Bawuk*sambil njembeng lambe*. Setelah itu acara ini ditiadakan sejak jaman saya masih bayi. Jadi saya cuma dengar ke Legenda an nya dari bapak. Hahaha. Yang saya ingat, kemudian muncul majalah Kuncung dan Bawuk.
33. Ra enak, tur larang, sing dodol ngentutan
Waktu kecil, bapak ibu banyak tidak bisanya nuruti keinginan saya. Salah satu yang tidak keturutan adalah  keinginan saya untuk membeli es krim walls yang dijajakan dengan kereta box kayuhan sambil membunyikan suara yang khas.

 

Setiap saya kepingin dibelikan es krim tersebut, bapak ibu selalu memberi tahu kalau itu es tidak enak dan mahal supaya saya tidak lagi minta untuk dibelikan. Akhirnya ya tertanam dipikiran saya kalau es Walls itu tidak enak dan mahal. Lalu terbersit di pikiran untuk membuat plesetan kata dari lagu yang diputar oleh penjual es keliling merk walls tersebut

 

Ra enaakk…tur laraaangg…sing dodol ngentutan [dinyanyikan sesuai notasi lagu yg diputar pada box musik penjual es krim Walls] wakkakaka njur mlayu nggenjrit doyak bakule es krim walls

 

dan akhirnya tag line plesetan dari lagu gerobak es Walls ini menyebar ke pelosok jogja kala itu. hahaha

34. Montor Duyung

Semasa saya kecil, pernah ada isu tentang mobil box, atau truk, yang suka menculik anak anak dengan cara dimasukkan ke karung, orang-orang menyebutnya, Montor Duyung (mobil Duyung-Jawa). Kadang ibu ibu suka memasukkan ini ketika sedang menyuruh anaknya supaya pulang sekolah langsung pulang kerumah, tidak main jauh jauh dari rumah.
“..Le, aja dolan adoh adoh, mengko ndhak diculik karo Montor Duyung, dilebokne bagor,,,”

35. Sang Legenda: Mbi’ing, Cemul, dan Suprat

Mbi’ing adalah ibu ibu tua tidak waras dengan busana jarikan, kemana mana membawa payung dan nylempangkan jariknya nggembol sesuatu diperutnya. Mbi’ng almarhum rumahnya di daerah Kadipiro, tapi daerah jelajahnya dari Malioboro, ketimur sampai pernah saya temukan dia di daerah Condong Catur. Umpatan khas dari Mbi’ing adalah
“,,,malinggg,,,malinggg,,,

maling kijing,,,pateni wae!!” sambil mengacungkan payungnya dan mengkaitkan ke leher orang yang dianggapnya telah mengganggunya.

Cemul adalah orang tidak waras yang berbadan gendut. Tidak banyak bicara tapi suka dimintai nomor oleh orang orang. Wilayah jelajahnya dari rumahnya di Ketanggungan, sampai daerah Magelang, karena saya pernah melihat dia.

Suprat adalah orang tidak waras yang selalu bugil, hanya menutupi tubuh bagian depannya dengan bagor usang. Almarhum suka membawa batu, dan memunguti batu batuan yang ditemukan dijalan. Jika marah suka melempar orang. Suprat juga suka ditanya nomor butut oleh orang orang. Wilayah jelajahnya dari rumahnya di Sonosewu sampai ke Klaten. Saya pernah melihat dia sampai di Klaten. Suprat almarhum ini tetangga saya di RT 04 Sonosewu. Suprat ini sering dikasih makan sama ibu bapak, jadi kalau sama beliau kadang ngerti minta nasi, tapi kalau sama tetangga yang lain yang suka ngejek mesti ngelempar. Kakaknya Suprat adalah Bu Sum.

36. Ida Gedhang

Saya mungkin sudah agak lupa tentang kejadian ini, baik tahun ataupun detailnya, karena mungkin saya masih kecil sekali. Yaitu ketika ada berita dari mulut ke mulut tentang seorang wanita bernama Ida yang masuk rumah sakit karena pisang yang dia gunakan untuk melakukan “swalayan” patah ditempat. Cerita selengkapnya ada di thread saya yang ini


Ku serasa ingin menjadi gedhangnya wakakakka

 

37. Dolanan Bocah

Gotri legendri, Salah satu dari permainan anak anak Jawa yang sudah punah. Anak anak bermain melingkar, jongkok ditanah. Mereka saling menggilirkan batu ke sebelahnya sambil menyanyikan lagu.

 

Gotri legendri nogosari

 

thiwul uwal awul jadah mbantul

 

dolan awan awan nggolek kodok

 

titenana besok gedhe dadi apaa

 

padha mbako enak mbako sedhep

 

dhempo ewa ewo kaya kodok

Kemudian, yang mendapatkan batu terakhir dia jadi kodok

Permainan anak anak yang lain seperti

 

Bethet Thing Thong

 

Bethet thing thong legendar gong

 

gonge ilang

 

cam cao gula batu kedhawung ilang

Boy-boynan

 

Pemain berusaha melemparkan tumpukan pecahan genting, atau kreweng dengan bola kasti atau tenis. Satu orang berusaha mencegahnya.

Udan barat

 

Permainan menggunakan gacuk, bisa dari pecahan tegel atau kereweng. Dimainkan dengan melemparkan batu ke garis, yang paling dekat dengan garis dia yang mulai main. Gacuk dipasang di kaki, kemudian orang berjalan jingkat jingkat dengan gacuk terpasang disatu kaki. Yang kalah menggendong yang menang, dari garis ke garis.

Benthik

 

Mungkin sudah banyak dibahas di blog yang lain. Permainan menggunakan dua batang kayu besar dan kecil. Pemain berusaha mencungkil kayu kecil (dengan kayu agak panjang) dari sebuah lubang. Jika pemain lawan tidak bisa menangkapnya, maka lanjut ke level selanjutnya, yaitu Patil Lele.

Tawonan

 

Permainan berkelompok. Dimainkan dengan membuat lingkaran besar di tanah tempat memenjarakan pemain lawan yang tertangkap.

Jek-jekan

 

Dimainkan berkelompok. Masing masing pemain berusaha menyentuh tiang milik lawan. Pemain yang baru saja menyentuh tiang sendiri, jika dia menyentuh lawan, maka lawan akan dipenjara ditiang milik dia. Istilahnya, tuwo tuwonan.

Ingkling atau engklek

 

Ada ingkling gunung, ingkling sarug, ikling montor mabur, ingkling kates, dll gacuk e seka kreweng wekekekke kreweng pecahan gendeng, nek ora yo pecahan tegel, di elus elus nganti kinclong, di kikir pinggire nganti alus, disimpen simpen nggo gacuk nek meh arep ingkling meneh

Jamuran

 

Dimainkan berkelompok beramai ramai bergandengan tangan melingari seorang di tengah, sambil menyanyikan lagu dibawah rembulan penuh.

 

Jamuran, yo ge gethok, jamur apa, yo ge gethok, semprat semprit jamur apa?

 

lalu pemain yang ditengah menyebutkan sesuatu, seperti:

 

Jamur parut, maka pemain yang melingkar harus mengangkat kakinya untuk dikili kitik dengan kereweng, jika tertawa maka dia jadi yang ditengah

 

Jamur kendhil borot, semua pemain harus kencing wakakakakkaakakaka marahi kemekelen

 

dan jamur jamur lainnya

Ancak-ancak alis

 

Permainan yang juga dimainkan beramai ramai. Dua orang anak menggabungkan kedua tangan mereka dan diangkat tinggi. Anak-anak yang lain membuat rangkaian satu persatu memasuki melewati kedua anak tadi, sambil menyanyikan lagu

 

Ancak-ancak alis, si alis kabotan kidang

 

anak-anak kebondungkul si dhungkul…bla bla bla lupa, ada yang ingat?

Cublak-cubkal suweng

 

Satu orang diminta melakukan posisi seperti orang bersujud, ndhekem. Kemudian empat atau lima anak lainnya bermain menggilirkan sebuah kerikil ditangan mereka. Setelah selesai, anak yang ndhekem tadi menebak kerikil di tangan siapa.

 

Cublak cublak suweng, suwenge ting gelenter,

 

mambu ketundhung gudel

 

pak gemppng lela legung sapa ngguyu ndhelikake

 

sirpong dhele kosong sir, sirpong dhele kosong

Sepak Sekong

 

Permainan yang menggunakan bola, biasanya bola plastik. Satu anak menangkap bola yang disepak oleh satu dari mereka. Setelah bola disepak, anak anak yang lain lalu sembunyi. Pemain yang menangkap bola, lalu mencari mereka dan menjaga supaya bolanya tidak disepak oleh pemain lainnya. Jika bola berhasil disepak lainnya, maka harus diulang lagi dan sibocah penunggu bola harus menunggu bola lagi.

Kempyeng atau cring-crong

 

Permainan anak-anak putri menggunakan uang receh sebanyak lima buah atau berjumlah ganjil. Uang dibolak balik di telapak tangan luar dan dalam. Uang disebar, setelah disebar, uang ditembakkan satu sama lain atas permintaan lawan. Kenapa harus ganjil? satu koin digunakan sebagai penghalang.

Subyung, bekelan, dll
Dhingklik oglak aglik
Permainan anak anak, dimainkan dengan saling mengaitkan salah satu kaki ke kaki teman dalam sebuah lingkaran kecil dengan kaki lain bertumpu di tanah dan melakukan gerakan berjalan seperti berjingkat bersama. Masing-masing tangan pemain memegang pundak atau tangan pemain lainnya.

link tentang permainan anak anak Jawa ada ditempatnya mbak Hida di sini

38. Nas Ping

Frase ini diucapkan jika kita sedang reserve mengenai sesuatu (ngecim). Nilai hukumnya lebih kuat dari sekedar ngecim saja. Biasanya diucapkan lengkap seperti ini

 

“Nas ping, nas kali pating sapa ndemok dosa…..” didahului dengan menggigit ujung jari dan mengolesi dengan ludah sebelum melakukan gerakan menyilang imaginer pada sesuatu yang akan di cim

39. Kuyuhan dibawah Kretek Kewek

Jembatan atau Kretek Kewek, berasal dari kata Kerk=Gereja dan Wek=Weg=Jalan. Merupakan serapan dari kata bahasa Belanda. Dahulu kretek kewek ini adalah cikal bakal prostitusi terkenal di Jogja, Sarkem, Pasar Kembang, karena tepat di sebelah atas jembatan selain digunakan untuk mangkal para PSK, juga untuk jualan kembang segar sebelum akhirnya prostitusi ini dipindah ke daerah Sosrowijayan.

 

Orang jogja, pasti sekali dua kali pernah merasakan kecipratan uyuh ketika melintas di bawah jembatan ini yang notabene adalah jalan atau rel kereta. Kuyuhan dibawah Kretek Kewek ini menjadi fenomena unik di Jojga. Ra ngandel??? takon aku ki sing wis kuyuhan makaping kaping.

40. Wiwitan

Bagi yang tinggal di Jogja pedesaan pasti pernah mengalami ini. Wiwitan adalah pembagian berkat berupa nasi dan lauk pauk, biasanya gudangan sayur diberi teri dan peyek serta buah, mirip dengan bancakan. Dilakukan untuk me-wiwit-i atau memulai panen padi. Begitu terdengar suara “wiwittt,,,wiwitttt,,,,” bertalu talu dari mulut ke mulut, anak-anak lantas lari ke sawah untuk meminta sepincuk nasi berkat sambil membawa daun pisang sebagai alas makan. Lalu tiba saatnya derep dengan ani-ani. Setelah selesai derep, lalu ngiles pari. Setiap tetangga yang ikut derep, diopahi 5 piring gabah.

41. Senisono

Gedung disebelah ujung timur selatan kompleks gedung kepresidenan Jogja adalah gedung yang sangat melegenda. Gedung ini dahulu sebelum “dipugar” digunakan untuk kegiatan berkesenian, termasuk pameran. Pada medio 80-an, gedung ini pernah digunakan untuk pameran OSHIN. Di situ dipamerkan barang-barang, pernak-pernik syuting film OSHIN.

42. Legenda Manuk Bence dan Culi

Manuk atau burung Bence, kedatangannya yang ditandai dengan suara ocehannya pada tengah malam, dijadikan tanda akan adanya bahaya, kematian, bencana, dll. Sedangkan manuk atau burung Culi, dijadikan tanda bahwa ada jenazah yang tali kain kafannya belum dilepas, sehingga minta diculi, di-uculi (dilepas-Jawa).

 

43. Mitos dilarang nuding kuburan

Dahulu semasa saya kecil, jika kita tidak atau dengan sengaja menudingkan jari kita ke arah kuburan, maka kita harus menggigit ujung jari (nggeget-nggeget) yang digunakan untuk menuding, jika bisa sampai berdarah, lantas ujung jari tersebut disentuhkan ke tanah dan bilang amit-amit ora ndulit. Tanah yang menempel di ujung jari, baru boleh dibersihkan setelah sampai kerumah. Kalau tidak dibegitukan namanya nuding setan, jarinya bisa punther.

 

44. Bu abu abu abu abuuuuu, abune moasss

Frase ini diucapkan oleh seorang simbah tua yang sudah almarhum sejak saya kecil. Kalau tidak salah namanya mbah Krama. Menawarkan abu gosok yang digendongnya dipunggung dari Ambar binangun, tempat dia mengambil dan membungkusi abu bekas pembakaran tobong batu bata sampai ke pasar Gede. Harga satu plastik abu gosok berukuran 1 Kg seharga 25,-. Beliau selalu memanggil langganannya dengan sebutan Mas, either itu laki atau perempuan, karena mas di sini artinya nakmas, anak mas.

 

45. Loh, tapi kuda kan binatang.

Fragmen iklan layanan masyarakat di radio paling terkenal. Muncul pada awal tahun 80-an dan bertahan hingga akhir 80-an. Percakapan yang mengambil setting di atas andhong tersebut biasa disiarkan oleh RRI, Arma Sebelas, dan Retjo Buntung. Dialog dalam fragmen tersebut kurang lebih sbb:

 

Wanita1: Pak, tolong antarkan kami ke kota ya, Pak

 

[derap langkah kuda]

 

Kusir : Tapi, di kota nanti, tidak boleh membuang sampah sembarangan di jalan ya, Den.

 

Wanita2: Loh, Pak, itu tadi kudanya membuang kotoran di jalan?

 

[ringkikan kuda]

 

Wanita1: [bergumam] hmmm, betul juga ya,,,,[kaget] loh, tapi kuda kan binatang,,,,,

 

[ditutup dengan suara derap dan ringkikan kuda]

46. Ndemok silit kopeten

adalah lelagon dolanan anak anak yang agak vulgar. biasanya dilagukan untuk saling mengejek

Ndemok silitttt kopeten ayo ten

 

tendangono ayo no, nogosari ayo ri, rina wengi ayo ngi, ngidul ngetan ayo tan, taun baru ayo ru, rujak degan ayo gan, gandul keyong ayo yong, yongo ngemis ayo mis, mesam mesem ayo sem, semar mendem ayo ndem,,,,,,ndemok siliiiiittt kopeten dst dst

47. Mbah Atin

 

Mbah Atin adalah seorang ibu tua yang agak waras. Berbusana jarik-kebaya dan mengempit tas berwarna hitam, mbah Atin selalu saja tahu dan selalu ada jika ada sripah atau lelayu atau orang meninggal. Hingga, mbah Atin selalu dikait-kaitkan membawa kematian pada setiap daerah yang didatanginya.

48. Rumor tentang adanya hantu biyung tulung di njeron beteng


Dahulu, pernah sekali terjadi rumor tentang hantu biyung tulung di seputaran kadipaten ke arah ngasem (masih area njeron beteng). Hantu biyung tulung ini selalu tidak pernah menampakkan wujud, hanya suara yang mengaduh memanggil ibunya minta tolong “aduh biyung, tulung”

 

 

49. Siti Rohani

 

Ada anak baru

Masuk sekolah

pakai kacamata

Rambutnya ekor kuda

 

Siapa namanya Siti rohani

Mana rumahnya

jalan Banyuwangi

 

50. Kulak kolang kaling kalih kilo

 

Ada gojegan masa kecil saya yang lucu semacam unen-unen yang menggunakan kata-kata dengan awalan suku kata yang sehuruf, contohnya:

 

Kala kula kelas kalih, kula kulak kolang kaling kalih kilo

Kolangkalingipun kula kumbah kali kilen kula, kalonipun keli, kula kejar, kathok kula kecanthol kawat ketok kempole kowar kawer hahahahaha (bukan kempol, tapi ko**ol)

 

Saksuwene sesasi, susine susi susut sesisih (bukan susi, tapi sikut wekekekeke…milih kesikut apa kesusu hayooo?)

 

Silit sapi singsot siat siut suarane sae sanget

 

51. Yogyakarta Top Hits

Truly legend nek iki. Cah yoja nek ra reti iki bangeten!!! wakakakak berarti ra tau keganggu saben dina Jumat, bar Jumatan tekan setengah telu. Kuabehh radio RRI karo swasta anggota PRSSNI DIY nyetel Yogyakarta Top Hits. Nyebahi tenan og RRI i mekso!

 

52. Kantore bapak gedhe [muni ngono karo njembeng lambe]

Ucapkan frase kalimat di atas, “kantore bapak gedhe” sambil  njembeng lambe -menarik bibir ke arah samping atau dalam bahasa Jawa dijembeng (sapa nek wani ngomong ukara iki ning karo lambene dijembeng wekekeke)

 

53. Pameran Oshin di Senisono 1986

Masih ingat dimana letak gedung Senisono?

Gedung kesenian warisan belanda ini dahulu terletak di sisi pojok paling kanan depan Gedung Agung. Sebelum akhirnya gedung ini dipugar dan dihentikan fungsinya sebagai gedung kesenaian, pameran, dll pada tahun saya masih SMP, sekitar 95an. Saya dahulu SMP 2, jadi tiap hari ya liat gedung ini kalau pulang sekolah. Sedihnya kala itu gedung ini dihilangkan bentuk aslinya. Foto tentang gedung Senisono jaman dahulu (sebelum 95) dapat dilihat di tembi.org

 

Nah, dahulu ada serial di TVRi Oshin (Ayako Kobayashi, Yuko Tanaka,  Nobuto Otawa) yang diputar ketika saya masih kecil sekali, sekitar tahun 1986-1987an. Lalu di pertengahan tahun 1986an itu ada pameran Oshin di gedung Senisono almarhum. Yang ditampilkan di situ adalah diorama rumah oshin, baju Oshin, dll

 

54. Lumut kijing

Dahulu masa kecil, kalau saya batuk, ibu lantas pergi ke kuburan mencari kijing yang sudah berlumut. Lumut kijing yang sudah dikerok dicampurkan ke dalam air hangat atau panas, lalu diminumkan ke saya. It did not work!!

 

55. Nyuthik tengu dengan contong daun pisang

Jika kena tengu, maka bapak lantas mengambil daun pisang dan dibuat contong, lalu digunakan untuk mencutik tengunya yang betah nempel di kulit kelamin. Rasanya gatal gatal clekit clekit. Trus kalau kupingku sakit, bapak ambil contong daun pisang terus diisi nasi anget disebulkan ditelingaku

 

56. Budi Budeng

Lelagon dolanan

 

Budi budeng iwak bandeng mlebu weteng, disuduk mubeng mubeng nganggo kathok ora sedheng!! *mlayuuuu kabeh*

 
57. Maria Kadarsih

Bagi saya, Maria Kadarsih adalah legenda. Beliau ini adalah penulis cerita sandiwara berbahasa Jawa ketika saya masih kecil. Satu sandiwara yang masih nyanthol di otak saya adalah Emprit Nggantung. Ternyata saya akhirnya menemukan biodata beliau.

Bu Maria ini dulu kuliahnya di Universitas PGRI Yogyakarta (dulu namanya masih IKIP PGRI) di Sonosewu, sama sama RT 04 hahaha, duh senengnya. Waktu kecil dulu sukanya main ke IKIP naik sampai lantai tiga. Terus, pulangnya main di sawah di belakang IKIP sambil nyari ikan dengan besek. Pulang bawa plastik berisi ikan sepat, cethul, tombro…..hahaha nyolong di gudang Djoko Lodhang yang letaknya juga di belakang IKIP.

 

Bahagia sekali akhirnya saya menemukan profil dan fesbuk beliau idola saya ketika masih piyik di sini dan sini


Gara-gara Emprit Nggantung saya malah jadi teringat sandiwara radio berbahasa Jawa lainnya: Ngundhuh Wohing Pakarti, Kabegjan, Kasaput Mendhung, Bibit kawit, Prahara, Pitung Taun kepungkur, Sungsang, Ninggal Nalar, Nagih Janji, Omah Warisan

 

58. Serial Api di Bukit Menoreh dan Naga Sasra Sabuk Inten SH Mintardja di koran KR

 

Serial ini selalu saya tunggu-tunggu pada setiap hari di koran Kedaulatan Rakjat selain tentunya favorit saya yang lain: Sungguh Sungguh Terjadi.

 

59. Tanah Merdeka TVRI Yogyakarta

 

Waktu saya SD ada acara remaja yang paling saya sukai: Tanah Merdeka. Entah sejak kapan acara ini dimulai. Menurut om saya acara ini pertama kali mengudara pada tahun 1987 untuk menyambut 25 tahun berdirinya TVRI. Acara ini pertama kali dibawakan oleh Anis Baswedan, namun pada jaman saya, acara ini dibawakan oleh mas Arief dari SMA 2 Yogyakarta almamater saya hehehe. Acaranya ya normatif lah, nasionalisme pemuda model jaman segitu yang penuh dengan warna-warni merah putih di baju dan emblem garuda pancasila di peci. Yang asik ya pas wawancara para tokoh lokal maupun nasional. Hampir pengisi acara dan pembawa acaranya anak-anak usia SMP-SMA…..

 

60. Yang kuingat sejak kecil selama berpuluh tahun nonton pasar malem sekaten di alun-alun utara

Kenangan paling indah adalah ketika bapak mengajak saya, ibu dan adik saya Bambang Wibisono naik sepeda boncengan wong papat nonton sekaten. Ada hal-hal yang tidak pernah berubah dari sekaten (sepanjang ingatan saya). Saiki wis adoh seko Indonesia dadine pingin ngeling-eling meneh.

Sisi Utara Alun-alun
Yang jual di sisi utara alun-alun biasanya penjual bolang-baling, gorengan, dan mainan anak.  Biasanya jualnya di sisi utara alun-alun depan soboharsono mengulon. Agak mengulon dan nengah dikit itu adal penjual celana jeans murah dan baju awul-awulan. Terus stan motor suzuki. Terus di tengah jalan di depan penjual bolang-baling ada yang jual plembungan sabun. Agak ke barat lagi depan Sonobudoyo dekat gawang itu penjual tanaman, bakso dll terus agak ketengah dekat penjual tanaman itu biasanya ada stan pameran macam-macam.

Sisi Tengah dan Selatan

Tukang obat biasanya jualnya di depan pagelaran di sebelah selatan alun-alun, atau di jalan setapak di tengah antara dua ringin kurung itu. Pokoknya di atas konblok lah. Mesti dodole nggilani, kalajengking sak tumpuk, terus ada ular kering. Obat paling laris ya obat panu dan kutil (hihihi aku wis tau tuku obat kutil, perihhhh banget). Di tengah timur ada lowangan pasti digunakan sama jathilan yang ada pocongane itu. Ada satu pemain jathilan yang dipecut dengan pecut besar, terus jatuh, terus dibopong dimasukkan tenda, bantalnya mori. Selang beberapa lama dibuka tendanya sudah nongkrong pocongannya lengkap dengan kucir dan tali yang mengikat tubuhnya. Hihihi ngapusi itu, wong saya dulu waktu kecil juga ikut jathilan di Sonopakis namanya Kembang Sore, jadi ya tahu nek itu ngapusi.

 

Sisi Tengah Selatan Barat

Biasane panggung. Ada 2 panggung, satu panggung kethoprak, satunya dangdut. Di selatan dan baratnya panggung biasanya banyak warung bakso, soto, brondong yang dibentuk montor-montoran sama arum manis.

 

Sisi Timur

Lain dan gak bukan ya pasti stand drem molem, tong setan, istana hantu, nek pas ada sirkus ya tenda besar sirkus disitu. Blas belum pernah semua…..ha wong ra nduwe duit.

 

Yang tidak terlupakan di pasar malam sekaten adalah beberapa jualan khas:

Kapal othok-othok -bahan bakarnya lengo klentik dikasih di atas kapal dan ketika di bakar baunya khas sekali-

Manuk-manukan dari lilin warna merah yang dikasih kurungan dari wilah bambu di cat hijau.

Terus tepas-tepasan yang di teres.

Kitiran dari kertas minyak merah-kuning. Biasanya mereka menjualnya ditancepin di debog pisang di dalam baskom ijo dan jualnya deketan sama penjual ndog abang.

Kipas dari akar cendana. Biasanya juga jual seruling bambu yang bisa menirukan suara burung.
Endog abang. Gak tahu apa filosofi dibalik endog abang dll (males nyari) tapi yang jelas, endog abang ini selalu bisa ditemui disekaten (jaman dulu). Padahal ya endog di teres terus disunduk garan sate, terus di atasnya dikasih kertas tapi kok ya dulu seneng banget ya.  Mbah saya dulu juga pernah jualan ndog abang di sekaten. Njualnya pake baskom ijo ditaruh di atas tenggok. Selain jual ndog abang pasti juga jual suruh-kinang.
Oh iya, penjual akik ada di tengah juga, biasanya sama jualan keris, barang-barang kuno dll.

 

diolah dari sumber : http://amaltiagunawan.multiply.com/

Bakmi Jawa Super-Enak di Jogja

Bagi pembaca yang hoby banget makan bakmi jawa, rasanya perlu membaca posting saya yang satu ini.

Saya akan share pengalaman saya menjelajah kuliner bakmi jawa yang super-enak di Jogja.

-Bakmi Jawa  mBah Mo Code Bantul.

Warung bakmi mBah Mo ini terletak cukup jauh dari pusat kota Jogja. Yaitu di desa Code jalan Parangtritis Km.15 Bantul. Lokasinya memang cukup sulit dicari terutama bagi pembaca yag dari luar Jogja. Tapi tak perlu khawatir, saya akan menggambarkan ancer-ancernya. Kita dari pusat kota Jogja menuju ke arah selatan, tepatnya menuju jalan Parangtritis. Tinggal menyusuri jalan Parangtritis sampai ke Km.15, sampai perempatan Manding silahkan belok ke kanan atau ke arah barat. setelah itu ke selatan sedikit. Tanya sama warga di sana pasti dikasih tau (orang Jogja itu terkenal ramah dan gak pelit ngasi tau. hehe..)

-Bakmi Jawa mBah Hadi Terban

Warung bakmi jawa yang satu ini tidak pernah sepi pembeli. Dari buka sekitar jam 17.00 sampai tutup tidak pernah sepi. Jadi bersabarlah bagi anda yang datang ke sana pas jam makan malam. Dipastikan anda harus extra sabar. Tapi jangan kecewa, kesabaran anda akan diganjar dengan Bakmi Jawa yang maknyuuus khas mBah Hadi.

Letaknnya cukup mudah di akses dari pusat kota Jogja. Anda tinggal menuju ke arah Jl. C. Simanjuntak atau tepatnya di sebelah POM BENSIN terban sebelah barat KFC Jl.Jend Sudirman.

-Bakmi Jawa mBah Dumuk

Konon kabarnya, bakmi jawa yang ini menjadi legenda bakmi jawa di Sleman. Warung bakmi jawa yang terletak di Jln Magelang Km 12, Wadas, Tridadi, Sleman ini menyuguhkan bakmi jawa yang juga maknyuuus. Bagi para penggemar Bakmi Jawa di daerah Sleman, pasti sudah familier dengan rasanya.

 

PMB AMIKOM telah dibuka

Ayo yang mau jadi programmer masa depan.

Ayo kuliah di STMIK AMIKOM Yogyakarta.

Pendaftarannya sudah dibuka.

Jadwal Pendaftaran

  • Gelombang Khusus: Januari 3 – 26 Maret 2011
  • Gelombang I:28 Maret 2011 – 30 April 2011
  • Gelombang II: Mei 2 – 25 Juni 2011
  • Gelombang III:27 Juni 2011 – 19 Agustus 2011

info lebih lanjut.

klik http://pmb.amikom.ac.id/

Lomba Desain Batik Nasional 2011

Lomba Desain Batik Nasional 2011

Yayasan Akar Wangi Yogyakarta & Friends of Sergio Dello Strologo, bekerjasama dengan Museum Tekstil Jakarta menyelenggarakan First Annual SDS Award, Lomba Desain Batik Nasional 2011. 

Friends of Sergio Dello Strologo
Syarat dan Ketentuan

  1. Lomba terbuka untuk umum (WNI/WNA) dan semua umur, kecuali panitia, dewan juri, dan keluarganya.
  2. Tiga kategori disain yang dilombakan adalah sebagai berikut: 1) Post-Modern, 2) Flora dan Fauna, dan 3) Youth culture.
  3. Peserta adalah perorangan dan maksimal mengirimkan 2 karya untuk masing-masing kategori.
  4. Desain dibuat sesuai pengkategorian dan merupakan karya asli yang dapat dipertangungjawabkan.
  5. Desain asli harus dibuat di atas kertas ukuran A3 (29,7 x 42 cm) dan disertai lembar ide/maksud dari dsain tersebut berikut identitas peserta (nama, alamat, telepon).
  6. Keputusan juri adalah mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.
  7. Karya ditunggu paling lambat hari Senin, tanggal 28 Februari 2011.
  8. Kriteria penilaian: 1) Orisinalitas karya sesuai tema, 2) Kekuatan ide, dan 3) Inovasi pengaplikasian desain pada kain.
  9. Pengumuman pemenang tgl 30 Maret 2011 di Museum Tekstil Jakarta.
  10. Formulir pendaftaran pertama Rp 10.000,00 dan berikutnya, formulir pendaftaran kedua Rp 5.000,00
  11. Cantumkan ‘Lomba Desain Batik Nasional 2011′  di kiri atas dan kirimkan ke:

Yayasan Akar Wangi Yogyakarta
Grha Tirtadi, Ruang 104
Jl. Raden Saleh No. 20
Jakarta Pusat 10330

Formulir lomba dapat diperoleh di outlet-outlet KEDAUNG GROUP :

Jakarta

  • Menteng (021) 390-5275
  • Kaliangke (021) 5437-3121
  • Kemang (021) 7179-0208
  • Raden Saleh (021) 3983-7400
  • Pluit (021) 667-8972
  • Senopati (021) 520-4170

Bandung (022) 727-4615
Yogyakarta (0274) 488-591
Semarang (024) 831-4923
Hadiah

Hadiah I   Rp. 15.000.000,-
Hadiah II  Rp. 10.000.000,-
Hadiah III Rp. 5.000.000,-

Untuk informasi lebih lengkap silakan hubungi 0811 161 292 atau kunjungi link lomba di website resmi Yayasan Akar Wangi.

Haunted House Festival

Haunted House Festival 2011

Haunted House Festival 2011Haunted House Festival adalah sebuah hiburan Festival Rumah Hantu yang menyandingkan 2 rumah hantu dengan luas kurang lebih 25m x 5m dan menggabungkan 2 budaya (Jepang & Indonesia). Merupakan Obake terbesar tahun 2011 ini, dengan konsep baru dan lebih seru… 

Acara ini berlangsung 11 maret 2011-11 April 2011 di Babarsari Expo Land (depan Hotel Sahid Raya) Yogyakarta.

Festival ini diharapkan dapat menjadi festival rumah hantu terbesar dan pertama di Jogjakarta. Dengan konsep Obake yang lebih Fresh, Lebih Menakutkan, tentunya tak lupa Kejutan Kejutan lainnya yang beda dari Obake yang sebelumnya…. selain Obake (Rumah Hantu Jepang) ada juga Rumah Hantu Indonesia (setting tempat di Lawang Sewu).

Haunted House Festival 2011
Tiket
Single : IDR 10.000
Couple : IDR 15.000

Apa kamu berani mengadu nyali?
Rasakan sensasinya…
Shock Your Adrenalin!!!

Informasi selengkapnya mengenai acara ini silakan menghubungi:
Exposer Djokdja
CP : 081808850008 (Bambang)
Twitter : @hauntedhousefes
YM : hauntedhousefestival
Email : exposer.yk@gmail.com / hauntedhousefestival@yahoo.com
Haunted House Festival 2011
Acara ini didukung sepenuhnya oleh : Onegai Shelter, Exindo Pratama, Geronimo FM, Jogja Family Radio, Swaragama FM & http://www.event.web.id

Pro Penetapan Gubernur DIY

PENETAPAN, YES

PENETAPAN, YESKalimat yang dipakai untuk judul ini diambil dari spanduk yang dibawa pendukung penetapan Sultan HB X sebagai gubernur DIY. Kalimat sejenis bisa ditemukan pada spanduk yang lain dan dibawa para pendukung yang sama, dari elemen masyarakat berbeda. Mereka, para pendukung itu berjalan dari Kraton Yogyakarta menuju gedung DPRD DIY, yang letaknya berada di kawasan Malioboro, atau utara kantor gubernur DIY, Kepatihan.

Senin siang lalu (13/12) warga Yogya dari bermacam kelompok masyarakat, seniman, pegawai negeri, aktivis, warga kampung dan kelompok sosial yang lain, pada melakukan ‘pisowanan’di Kraton Yogyakarta, untuk menyatakan dukungan menyangkut Keistimewaan Yogyakarta dan penetapan gubernur. Warga Yogya, setidaknya dilihat dari spanduk dan yel-yel, menolak PENETAPAN, YESpemilihan gubernur dan wakilnya. Keistimewaan sepertinya identik dengan penetapan.

Di gedung DPRD DIY, pada hari itu ada rapat pleno menyangkut Keistimewaan Yogyakarta. Warga yang berkumpul di alun-alun utara/Pagelaran Kraton memberi dukungan pada DPRD DIY untuk menentukan sikap politiknya dengan mendukung Keistimewaan dan Penetapan. Mereka berjalan dari alun-alun utara menuju gedung DPRD DIY.

Lokasi gedung DPRD DIY yang berada di kawasan Malioboro, dan memiliki lalu lintas satu jalur, pada Senin siang itu dikosongkan. Lalu lintas tidak boleh memasuki kawasan PENETAPAN, YESMalioboro. Warga Yogya, berjalan membawa spanduk, dengan diisi kesenian sambil berjalan, sehingga suasana tampak meriah. Yel-yel penetapan sering dikumandangkan, yang agaknya untuk memberi semangat warga yang mendukung penetapan.

Toko-toko di Malioboro, dari ujung selatan sampai ujung utara, ketika arak-arakan warga mulai melangkah pada menutup tokonya. Padahal, pada pukul 11 lebih, toko-toko masih buka. Satu jam kemudian, ketika warga mulai menapaki jalan aspal di kawasan Malioboro. Pintu-pintu toko mulai ditutup.

PENETAPAN, YESDi halaman gedung DPRD DIY, disediakan panggung untuk menyelenggarakan acara. Beberapa tokoh melakukan orasi untuk mendukung Keistimewaan dan Penetapan. Hampir semua yang berorasi, tak satupun ada yang berbeda pendapat. Semuanya berkata akur: Keistimewaan dan Penetapan.

Du ruang sidang Paripurna, para jubir fraksi menyampaikan pendapatnya dan menyangkut Keistimewaan, semua partai menyatakan mendukung. Namun dalam hal gubernur, ada yang tegas menyatakan dukungan penetapan, setidaknya seperti apa yang disampaikan PDIP melalui juru bicara Fraksi, Totok Hedy Santosa. Namun, Partai Demokrat melihat dengan PENETAPAN, YESperspektif lain. Meski mendukung Keistimewaan, tetapi dalam hal jabatan gubernur tidak secara tegas mendukung, melainkan mengikuti peraturan perundangan yang berlaku.

Opsi diluar gedung DPRD DIY, setidaknya jika dilihat dari spanduk dan mendengarkan yel-yel, pilihannya sangat jelas: Keistimewaan dan Penetapan. Namun didalam gedung DPRD DIY, meski tegas mendukung Keistimewaan, namun masih ragu pada penetapan, sehingga istilah retorik dipakai agar tidak terlalu kentara kalau menolak penetapan.

Senin pagi sampai siang, suasana Malioboro penuh pejalan kaki. Kalaupun ditemukan kendaraan bermotor, ditempatkan ditrotoar, tetapi tidak ada yang menaiki. Sehingga boleh PENETAPAN, YESdikatakan, bising suara kendaraan tidak mendominasi. Pendek kata, pada Senin hari itu, Malioboro tidak penuh polusi yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor.

Para warga yang ikut berjalan, selain ada anak-anak muda. Ada yang mengajak anaknya juga. Kecuali itu, ada perempuan tua ikut ‘hadir’dalam acara dukungan penetapan. Selain, tentu saja, laki-laki atau bapak-bapak. Berbagai macam kelompok masyarakat datang dari beberapa Kabupaten dan pemerintah kota dibawah propinsi DIY.

Setelah reformasi berjalan selama 12 tahun, sejak tahun 1998 reformasi bergulir, pada periode kedua reformasi status Keistimewaan dan jabatan gubernur DIY mulai dipersoalkan. Seolah Keistimewaan dan penetapan memiliki masalah secara yuridis, sehingga perlu diadakan perubahan. Padahal Keistimewaan tercantum dalam undang-undang. Dan selama ini Keistimewaaan Yogya melekat dengan jabatan gubernur.

Persoalan Keistimewaan dan Penetapan gubernur DIY belum tuntas. Masih ada pro kontra antara penetapan dan pemilihan. Pemerintah pusat menghendaki pemilihan sesuai UU Pilkada. Warga Yogya, meski tidak mutlak semuanya, menghendaki penetapan. Perbedaan pandangan antara pusat dan daerah mengenai Keistimewaan Yogya masih terus berlanjut, sebab RUUK belum dibahas di DPR.

sumber:http://www.tembi.org/

Sejarah Yogyakarta

Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan Propinsi yang mempunyai status sebagai Daerah Istimewa. Status Daerah Istimewa ini berkaitan dengan sejarah terjadinya Propinsi ini, pada tahun 1945, sebagai gabungan wilayah Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman, yang menggabungkan diri dengan wilayah Republik Indonesia yang diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945, oleh Bung Karno dan Bung Hatta.

Ujung sebelah Utara dari propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan puncak gunung Merapi yang memiliki ketinggian lk. 2920 meter diatas permukaan laut. Oleh para ahli gunung berapi (vulcanolog) internasional, gunung api ini sangat terkenal karena bentuk letusannya yang khas dan sejenis dengan letusan gunung api Visuvius di Italia. Sampai saat ini gunung ini gunung Merapi sangat aktif Puncaknya mengepulkan asap, yang merupakan panorama khas yang melatar-belakangi pemandangan kota Yogyakarta sebelah Utara.

Luas Propinsi Daerah Istimewa, lebih kurang 3.186 Km2 berpenduduk 3.020.837 orang (data Juni 1990) dan terbagi menjadi 5 Daerah tingkat II, yakni : Kotamadya Yogyakarta, yang merupakan Ibu kota propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kabupaten Sleman, dengan Ibukota Beran Kabupaten Bantul, dengan ibukota Bantul Kabupaten Kulonprogo, dengan Ibukota kota Wates.

Setelah wafatnya Sri Sultan Hamengku Buwono ke IX sebagi Guberneur Kepala Daerah Tingkat I Daerah Istimewa Yogyakarta , Pejabat Gubernur Kepala Daerah Propinsi DIY dijabat oleh Sri Paku Alam VIII yang sebelumnya sebagai Wakil Gubernur Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta

SEJARAH YOGYAKARTA

Antara tahun 1568 – 1586 di pulau Jawa bagian tengah, berdiri Kerajaan Pajang yang diperintah oleh Sultan Hadiwijaya, di mana semasa mudanya beliau terkenal dengan nama Jaka Tingkir. Dalam pertikaian dengan Adipati dari Jipang yang bernama Arya Penangsang, beliau berhasil mucul sebagai pemenang atas bantuan dari beberapa orang panglima perangnya, antara lain Ki Ageng Pemanahan dan putera kandungnya yang bernama Bagus Sutawijaya, seorang Hangabehi yang bertempat tinggal di sebelah utara pasar dan oleh karenanya beliau mendapat sebutan : Ngabehi Loring Pasr. Sebagai balas jasa kepada Ki Ageng Pemanahan dan puteranya itu, Sultan Pajang kemudian memberikan anugerah sebidang daerah yang disebut Bumi Menataok, yang masih berupa hutan belantara, dan kemudian dibangun mejadi sebuah “tanah perdikan”. Sesurut Kerajaan Pajang, Bagus Sutawijaya yang juga menjadi putra angkat Sultan Pajang, kemudian mendirikan Kerajaan Mataram di atas Bumi Mentaok dan mengakat diri sebagai Raja dengan gelar Panembahan Senopati.

Salah seoran putera beliau dari pekawinannya dengan Retno Dumilah, putri Adipati Madiun, memerintah Kerajaan Mataram sebagai Raja ketiga, dan bergelar Sultan Agung Hanyokrokusumo, Beliau adalah seorang patriot sejati dan terkenal dengan perjuangan beliau merebut kota Batavia, yang dekarang disebut Jakarta, dari kekuasaan VOC, suatu organisasi dagang Belanda. Waktu terus berjalan dan peristiwa silih berganti.

Pada permulaan abad ke-18, Kerajaan Mataram diperintah oleh Sri Sunan Paku Buwono ke II. Setelah beliau mangkat, terjadilah pertikaian keluarga, antara salah seorang putra beliau dengan salah seorang adik beliau, yang merupakan pula hasil hasutan dari penjajah Belanda yang berkuasa saat itu. Petikaian itu dapat diselesaikan dengan bik melalui Perjanjian Ginyanti, yang terjadi pada tahun 1755, yang isi pokoknya adalah Palihan Nagari, yang artinya pembagian Kerajaan menjadi dua, yakni Kerajaan Surakata Hadiningrat dibawah pemerintah putera Sunan Paku Buwono ke-III, dan Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat dibawah pemerintahan adik kandung Sri Sunan Paku Buwono ke-II yang kemudian bergelar Sultan Hamengku Buwono I. Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat ini kemudian lazim disebut sebagai Yogyakarta dan sering disingkat menjadi Jogja.

Pada tahun 1813, Sri Sultan Hamengku Buwono I, menyerahkan sebagian dari wilayah Kerajaannya yang terletak di sebelah Barat sungai Progo, kepada salah seorang puteranya yang bernama Pangeran Notokusumo untuk memerintah di daerah itu secara bebas, dengan kedaulatan yang penuh. Pangeran Notokusumo selanjutnya bergelar sebagai Sri Paku Alam I, sedang daerah kekuasaan beliau disebut Adikarto. Setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, beliau menyatakan sepenuhnya berdiri di belakang Negara Republik Indonesia, sebagai bagian dari negara persatuan Republik Indonesia, yang selanjutnya bersatatus Daerah Istimewa Yogyakarta (setingkat dengan Propinsi), sampai sekarang.

Antara awal tahun 1946 sampai akhir tahun 1949, selama lebih kuran 4 tahun, Yogyakarta menjadi Ibukota Negara RI. Pada masa itu para pimpinan bangsa Indonesia berkumpul di kota perjuangan ini. Seperti layaknya sebuah ibukota, Jogja memikat kedatangan para kaum remaja dari seluruh penjuru tanah air yang ingin berpartisipasi dalam mengisi pembangunan negara ini yang baru saja medeka. Namum untuk dapat membangun suatu negara diperlukan tenaga-tenaga ahli, terdidik dan telatih. Dan karena itulah yang melatar belakangin pemerintah RI untuk mendirikan sebuah Universitas, yang kita kenal dengan nama Universitas Gajah Mada, merupakan Universitas Negeri pertama yang lahir pada masa kemerdekaan.

Selanjutnya diikuti dengan berdirinya akademi di bidang kesenian(Akademi Seni Rupa Indonesia dan Akademi Musik Indonesia), serta sekolah tinggi di bidang agama Islam (Perguruan Tinggi Agama Islam Negaeri, yang selanjutnya menjadi IAIN Sunan Kalijaga). Pada waktu selanjutnya juga bediri lembaga-lembaga pendidikan baik negeri maupun swasta di kota Yogyakarta, sehingga hampir tidak ada cabang ilmu pengetahuan yang tidak diajarkan di kota ini. Hal ini menjadikan kota Jogja tumbul menjadi kota pelajar dan pusat pendidikan. Sarana mobilitas paling populer di kalangan pelajar,mahasiswa,karyawan,pegawai,pedagang dan masyarakat umum adalah sepeda dan sepeda motor, yang merupakan sarana trasportasi yang digunakan baik siang mupun di malam hari. Hal ini menjadika Jogja juga dikenal dengan sebutan kota sepeda.

 

Pada hakekatnya, seni budaya yang asli dan indah selalu terdapat di lingkunggan kraton dan daerah disekitarnya. Sebagai bekas suatu Kerajaan yang besar, maka Yogyakarta memiliki kesenian dan kebudayaan yang tinggi dan bahkan merupakan pusat sumber seni budaya Jawa. Hal ini dapat kita lihat dari peninggalan seni-budaya yang dapat kita saksikan pada pahatan pada monumen-monumen peninggalan sejarah seperti candi-candi, istana Sultan dan tempat-tempat lain yang masih berkaitan dengan kehidupan istana. Dan sebagian dapat disaksikan pada moseum-moseum budaya.

Kehidupan seni tari dan seni lainnya juga masih berkembang pesat di kota Jogja serta nilai-nilai budaya masyarakat Jogja terukap pula dalam bentuk arsitektur rumah penduduk, dengan bentuk joglonya yang banyak dikenal di seluruh Indonesia. Andhong antik di Jogja memperkuat kesan, bahwa Yogyakarta masih memiliki nilai-nilai tradisional. Seniman terkenal dan seniman besar besar yang ada di Indonesia saat ini, banyak yang didik dan digembleng di Yogyakarta. Sederetan nama seniman seperti Affandi, Bagong Kusdiharjo, Edi Sunarso, Saptoto, Amri Yahya, Kuswadji Kawindro Susanto dan lain-lain merupakan nama-nama yang ikut memperkuat pernanan Yogyakarta sebagai Pusat Kebudayaan.

Pada masa sekarang, seluruh predikat Yogyakarta luluh mejadi satu dan berkembang menjadi satu dimensi baru : Yogyakarta Sebagai Daerah Tujuan Wisata. Keramah tamahan yang tulus, khas Yogyakarta, akan menyambut para wisatawan di saat mereka datang, sengan kemesraan yang dalam akan mengiring, saat mereka meninggalkan Yogya, dengan membawa kenangan manisyang tidak akan mereka lupakan sepanjang masa.

Perananya sebagai kota Perjuangan, daerah Pelajar dan Pusat Pendidikan, serta daerah Kebudayaan, ditunjang oleh panorama yang indah, telah mengangkat Yogyakarta sebagai Daerah yang menarik untuk dikunjungi dan mempesona untuk disaksikan. Yogyakarta juga memiliki berbagai fasilitas dengan kualitas yang memadai yang tersedia dalam jumlah yang cukup, Kesemuanya itu akan bisa memperlancar dan memberi kemudahaan bagi para wisatawan yang berkunjung ke kota Yogya. Sarana transportasi, akomodasi dan berbagai sarana penunjang lainnya, seperti santapan makan-minum yang lezat, serta aneka ragam cinderamata, mudah diperoleh di mana-mana.

Sumber : http://yogya2.wasantara.net.id/tour/about.htm

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.